Berita harian Bontang kali ini berasal dari seorang guru honorer yang ada di SMA Negeri di Kabupaten Kutai Timur, yang berinisial HI (29) yang menyimpan ketidak percayaan terhadap kinerja pemerintah Kalimantan Timur mengenai janji peningkatan gaji para pejuang tanpa tanda jasa.

Alasannya janji itu sudah bertahun tahun guru-guru sudah menanti tindak lanjut realisasi penyesuaian gaji berdasarkan upah minimum Provinsi, namun hal itu tak kunjung menemu titik temu dan cenderung dibiarkan saja.

Dirinya mengungkapkan kegelisahan itu setelah tiga tahun tanggung jawab terhadap guru honorer SMA dan SMK di limpahkan kepada pihak Pemprov. Sejak saat itu juga penerapan Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 yang isinya sangat merugikan pihak guru honorer.

Pihaknya belum sepenuhnya percaya kepada kinerja pemerintah sebelum janji itu diwujudkan. Kalau sudah masuk rekening maka baru percaya, mengingat selama ini guru honorer hanya menerima harapan palsu.

Sebelum undang-undang itu berlaku, pemberian gaji masih diberikan tanggung jawabnya diberikan kepada pemerintah kota. Ketika itu pemberian gaji masih beragam. Bergantung kemampuan pemerintah daerah masing-masing.

Secara umum para guru honorer di SMK dan SMA Negeri diberikan gaji lebih tinggi dari pada ketika sudah diambil alih oleh pihak Provinsi. Ada guru yang diberikan gaji sesuai UMK kota dan ada juga yang diberikan intensif bulanan. Bahkan banyak juga yang diberikan intensif dua kali dari gaji UMK.

Pada tahun 2017 lalu guru honorer SMA dan SMK menerima gaji sekitar Rp 1,5 juta. Padahal pada tahun sebelumnya menjacapai Rp 2,3 juta. Dampaknya banyak guru yang harus berusaha lebih hingga memeras keringat untuk memastikan kebutuhan mereka tercukupi. Sebagian banyak yang mencari pekerjaan tambahan.

Tapi tidak sedikit pula yang harus rela meninggalkan pekerjaan mulianya tersebut. Puncaknya tahun lalu, telah beredar kabar bahwa banyak guru honorer yang ingin mengundurkan diri secara missal dari profesi yang sudah menjadi jati dirinya.

Kalau sudah seperti ini mau bagaimana lagi, banyak kurupsi dimana-mana. Sudah banyak pengangguran dimana-mana. Pendidikan semakin anjok, kualitas SDM semakin menurun. Kesejahteraan guru jadi pertaruhannya. Pastinya Berita harian Bontang sangat menjunjung semangat juang para pahlawan pendidikan seperti di atas.